Apa Pencemaran Udara Dapat Memperburuk Wabah Covid-19

Nada4D

Apa Pencemaran Udara Dapat Memperburuk Wabah Covid-19 –¬†Keadaan Seoul, Korea Selatan kini sedang diselimuti debu lembut sebab cuaca yang lebih dingin dari mulanya. Hal tersebut memberi kecemasan berkenaan peluang korelasi di antara pencemaran udara itu dan tingkat keparahan pandemi virus corona.

Walau tidak ada bukti nyata, beberapa pakar katakan paparan periode panjang pada polutan yang terikut udara condong tingkatkan resiko kematian karena Covid-19. Karena, ke-2 nya mengubah mekanisme pernafasan. Beberapa pakar bahkan juga menyebutkan, udara yang jelek bisa berpengaruh di tingkat infeksi juga. “Ada beberapa peluang sebab ke-2 nya menghancurkan mekanisme pernafasan orang,” kata specialist paru-paru di Ewha Womans University Medical Center.

Menurut dia, orang bisa alami kerusakan yang semakin besar pada mekanisme pernafasan mereka saat mereka terkena ke-2 nya. Ini bisa tingkatkan tingkat kejadian dan tingkat kematian karena Covid-19.

Apa Pencemaran Udara Dapat Memperburuk Wabah Covid-19

Chun menyebutkan orang yang terkena debu lembut untuk waktu lama bisa batuk dan bersin seringkali. Hal tersebut bisa menyebarkan virus pernafasan seperti Virus Covid-19 pada orang lain lewat udara.

“Semakin banyak riset harus dikerjakan untuk mengonfirmasi dampak tentunya. Tetapi atas sesuatu yang kami kenali selama ini, itu dapat beresiko,” sambungnya.

Korea Selatan nikmati udara yang lebih bersih sepanjang beberapa bulan sesudah diawalinya wabah Covid-19. Tetapi, sekarang ini Korea Selatan alami kenaikan tingkat polutan udara. Kualitas udara diprediksi semakin lebih jelek pada musim dingin sampai awalnya musim semi. Periode itu adalah musim pucuk biasa untuk debu lembut di Korea.

Kualitas udara di Korsel dikuasai oleh kabut asap dari beberapa pabrik di negara tetangga China. Mereka sudah mulai kembali lagi bekerja sesudah karantina sebab wabah. Kabut asap itu berawal dari pemanasan rumah tangga. Beberapa riset memperlihatkan peluang ada jalinan di antara tingkat debu lembut dan jumlah infeksi virus corona baru.

Satu studi oleh beberapa periset di Rumah Sakit Kampus Inje Ilsan Paik pada 2020, saat sebelum bakteri baru berbentuk virus corona pada udara diketemukan, menyebutkan keluarga virus corona dapat lebih kuat pada musim dingin. Karena, kekuatan infeksi mereka berkaitan dengan tingkat fokus debu lembut dan kelembapan tapi kebalikannya. sesuai dengan temperatur udara.

Apa Pencemaran Udara Dapat Memperburuk Wabah Covid-19

Tetapi, tipe virus corona yang sekarang ini menebar di penjuru dunia tidak lepas dari perhatian beberapa negara dengan cuaca yang lebih hangat. Riset lain dari Kampus Washington di St. Louis yang diedarkan menyebutkan Covid-19 bisa menebar bisa lebih cepat di wilayah dengan tingkat pencemaran udara yang semakin tinggi. Studi itu mendapati jalinan linier yang kuat di antara paparan periode panjang pada debu lembut.

Tetapi beberapa pakar waspada dalam tarik jalinan. Karena, selama ini tidak ada proses ilmiah yang bisa dibuktikan di antara paparan debu lembut dan infeksi Covid-19.

“Masih begitu awal untuk bikin simpulan dan saya berpikir tarik hubungan saat ini cuman bisa mengakibatkan ketakutan yang tidak berargumen buat khalayak,” kata dokter specialist penyakit menyebar di Pusat Klinis Kampus Korea di Ansan, Propinsi Gyeonggi, Choi Won-suk.

Choi memprediksi walau virus corona bisa menebar ke debu lembut dan capai badan orang, banyaknya dapat benar-benar kecil. Oleh karena itu, mempunyai dampak minimum di tingkat peristiwa Covid-19 keseluruhannya.

“Tapi benar-benar menolong untuk tambahan berhati-hati, misalnya dengan terus menggunakan masker muka dan kerap membersihkan tangan,” sambungnya.

Ia merekomendasikan beberapa orang untuk memakai masker membuat perlindungan dari debu lembut dan Covid-19. Karena, masker katun atau masker harian biasa tidak mempunyai dampak merintangi partikel lembut.

Tubuh Pengaturan dan Penjagaan Penyakit Korea menulis jika menggunakan masker dengan kekuatan filtrasi tinggi bisa menahan orang terjangkit virus corona dan membuat perlindungan mereka dari debu lembut.

“Kami merekomendasikan orang untuk tinggal di dalam rumah sebanyak-banyaknya waktu tingkat debu lembut tinggi, yang disebut anjuran yang hampir serupa yang kami beri untuk Covid-19,” kata seorang petinggi jurnalis.

Related Post