Membuka Sekolah Nadiem Diingatkan Kasus Covid Indonesia se-Asia

Kera4D

Fokus UtamaMembuka Sekolah Nadiem Diingatkan Kasus Covid Indonesia se-Asia, Pendiri Lapor Covid-19 Irma Hutabarat memandang argument Menteri Pengajaran dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang memperbandingkan Indonesia dengan beberapa negara di Asia berkaitan pembukaan sekolah tidak logis.

Irma menjelaskan peraturan pembukaan sekolah di Indonesia tidak dapat disetarakan dengan negara yang lain mempunyai jumlah kasus Covid-19 semakin sedikit dan mitigasi pengendalian pandemi yang dipandang lebih bagus.

“Semestinya mas menterinya ditanyakan. Beberapa negara lain tingkat penyebarannya bagaimana mas menteri? Jika kita saksikan di Asia Tenggara, Indonesia rangking satu dalam soal kasus,” katanya saat dikontak Fokus Update, Kamis (1/4).

 

Membuka Sekolah Nadiem Diingatkan Kasus Covid Indonesia se-Asia

Mencuplik dari Info Nusantara, Indonesia ada pada posisi pertama dengan kasus covid-19 paling banyak di Asia Tenggara. Sampai ini hari, Unit Pekerjaan Pengatasan Covid-19 menulis kasus corona di Indonesia capai 1.517.854 kasus. Diliris dari Info Nusantara.

Indonesia tempati posisi pertama dengan kasus wafat karena Covid-19 paling banyak. Kasus wafat di Indonesia sekarang ini capai 41.054 orang.

Pembelajaran Tatap Muka Akan Segera Di Mulai

Bila dibanding dengan negara di Asia Pasifik, Indonesia tempati jumlah kasus paling banyak ke-2 sesudah India berdasar catatan Statista, perusahaan asal Jerman yang beroperasi di sektor data.

Dengan pergerakan kasus yang lebih rendah dan mitigasi yang dipandang berbuah hasil, karena itu Irma memandang lumrah beberapa negara lain mulai buka sekolah. Tetapi menurut dia bukan bermakna Indonesia harus mengikuti.

“Ini asumsinya tidak logis, sekolah ingin dibuka. Lantas dibanding dengan beberapa negara yang lain mempunyai public health surveyllance benar-benar kuat,” katanya.

Irma memiliki pendapat peraturan pembukaan sekolah ini dilaksanakan tergesa-gesa. Dia memandang semestinya saat sebelum sekolah dibuka, pemerintahan pastikan dahulu mitigasi dan pengaturan kasus Covid-19 telah baik.

Menurut dia, vaksinasi tidak dapat jadi salah satu mengantisipasi penyebaran virus. Implementasi prosedur kesehatan juga, katanya, tidak dapat ditanggung dapat diaplikasikan dengan ketat di luar dan dalam lingkungan sekolah.

“Bagaimana selanjutnya sekolah jamin pelajar, guru dan semua staff kependidikan pergi dari lingkungan yang minim penyebaran? Bagaimanakah cara pastikan mereka di luar lingkungan sekolah patuh prosedur kesehatan?,” katanya.

Membuka Sekolah Diingatkan Kasus Covid Indonesia se-Asia

Irma menyebutkan DKI Jakarta sebagai salah satunya contoh. Kemarin, dia akui mendapatkan undangan dari Dinas Pengajaran DKI Jakarta untuk mengulas pembukaan sekolah. Dijumpai, DKI tengah menyiapkan eksperimen evaluasi bertemu muka terbatas.

Sementara, lanjut Irma, pergerakan kasus di DKI Jakarta belum teratasi. Tingkat positivity rate di DKI dalam seminggu paling akhir capai 11,1 %. WHO memutuskan wabah baru dapat dipandang teratasi bila tingkat positivity rate di bawah 5 %.

Keadaan semacam ini, menurut Irma, semestinya jadi alasan. Dia menjelaskan cara khusus yang seyogyanya dilaksanakan pemerintahan saat sebelum buka sekolah ada mengatur kasus sambil menggerakkan vaksinasi. “Wilayah di mana guru, siswa, semua staff sekolah tinggal itu harus ditegaskan teratasi dahulu. Minimal itu,” lebih Irma.

Awalnya, pemerintahan lewat SKB 4 Menteri mengenai Tutorial Penyelenggaraan Evaluasi di Periode Wabah Covid-19 mengharuskan sekolah mulai lakukan evaluasi bertemu muka sesudah vaksinasi guru dan tenaga kependidikan.

Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan peraturan itu diambil karena sekolah yang berani lakukan bertemu muka selama ini masih tetap sedikit, yaitu cuman 22 % dari keseluruhnya jumlah sekolah. Ia memperbandingkan dengan negara Asia Pasifik yang lain telah buka sekolah. Dikutip dari Fokus Update.

“Dari semua 23 negara di teritori Asia Timur dan Pasifik, 85 % dari semua negara itu telah membuka sekolahnya. Kita ketinggalan, kita di dalam 15 %,” katanya, Kamis (18/3).

Related Post